Ceriwis

5 Fakta mengenai paket wisata Bali yang diobral murah oleh turis asal China

Berita tentang warga negara China di Indonesia seolah tidak ada habisnya terjadi. Setelah sempat heboh dengan kasus tenaga kerja ilegal, kini mereka kembali muncul membanjiri Pulau Bali lewat paket wisata “murah meriah”. Dilansir dari tirto.id, banyak paket wisata murah meriah yang tak masuk akal ditawarkan kepada turis Cina dan dinilai merugikan ekonomi pariwisata Pulau Dewata.

Tentu saja hal ini sangat menarik untuk ditelusuri. Mengingat, Bali adalah aset pariwisata nasional bereputasi global, yang juga menjadi wajah Indonesia di mata dunia. Apa jadinya jika diobral murah meriah seolah tidak ada harganya? Tentu saja hal semacam ini patut kita telusuri jejaknya. Terlebih, mereka juga menerapkan berbagai cara dan modus untuk melancarkan aksinya.

Berawal dari paket wisata Bali yang terbilang ‘murah meriah’

Di balik derasnya kunjungan turis China di Bali, ada beberapa faktor yang mendasari terjadinya peristiwa tersebut. Dilansir dari tirto.id, jual beli kepala, harga terlalu murah alias diobral, sampai maraknya pemandu wisata ilegal, adalah penyebab melubernya kunjungan wisman asal negeri tirai bambu tersebut. Belum lagi, toko-toko souvenir di Bali juga dimonopoli oleh pihak-pihak tertentu.

Kunjungan wisatawan China yang semakin meningkat

Ilustrasi kunjungan turis China semakin pesat di Bali [sumber gambar]

Buntut dari hal tersebut, kunjungan mereka semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sumber dari tirto.id menuliskan, jumlah wisatawan China sebesar 586.300 (2014), 688.469 (2015), 990.771 (2016), 1,28 juta (2017) dan 1,1 juta (data per September 2018). Begitu masifnya, keberadaan para turis negeri tirai bambu itu mampu menggeser posisi wisman asal Australia, yang notabene adalah negara terdekat dengan Indonesia.

Terapkan modus dengan cara yang rapi untuk muluskan rencananya

Ilustrasi souvenir [sumber gambar]

Untuk memuluskan rencana mereka, ada beberapa modus dan trik tertentu yang digunakan. Hal ini pun ternyata sukses dilakukan. Dilansir dari tirto.id, mereka menekan bea perjalanan agar murah meriah, namun mengambil untung dari penjualan souvenir. Modusnya pun dijalankan dengan cara memonopoli pasar souvenir khusus turis China, menjual 99 persen barang-barang yang Made in China, serta memberi subsidi perjalanan bagi wisman negeri tirai bambu yang ingin melancong ke Bali. Hasilnya tentu sudah bisa ditebak. Paket wisata Bali murah meriah dan laris bak kacang goreng.

Merugikan Bali dari segi materi dan nama besar pariwisatanya

Peristiwa yang bisa merusak citra pariwisata Bali [sumber gambar]

Buntut dari peristiwa ini, nama besar Bali dan pariwisatanya menjadi turun dan dirugikan dari segi materi. Menurut Agung Partha dari Bali Tourism Board yang dikutip dari tirto.id memberikan datanya, Pulau Dewata menderita kerugian sebesar Rp5 triliun per tahun dari paket wisata murahan ala agen perjalanan turis Cina tersebut. Angka itu berdasarkan estimasi kehilangan jumlah pengeluaran turis per hari yang seharusnya bisa mencapai 100 dolar per hari. “Bayangkan, kita dirampok segitu tiap tahun. Siapa yang tidak marah coba?” ujarnya.

Peristiwa yang diprotes oleh pelaku pariwisata lokal

Para tokoh pariwisata Bali [sumber gambar]

Kejadian miris ini pun akhirnya diprotes oleh banyak pihak di bali. Utamanya dari pelaku industri pariwisata. Menurut Ketua ASITA Bali I Ketut Ardana yang dikutip dari tirto.id mengatakan, praktik paket wisata murah bisa berdampak buruk terhadap industri pariwisata Bali karena bakal memunculkan kesan “murahan.” Dalam jangka panjang, juga bisa menimbulkan kerugian berupa hilangnya pundi-pundi dolar dan yuan bagi pengusaha lokal dan negara.

Miris memang. Di saat Indonesia berupaya untuk membenahi sektor pariwisatanya agar mendatangkan pemasukan bagi negara, hal tersebut malah dimanfaatkan oleh para oknum WNA China yang tidak bertanggung jawab. Jika dibiarkan berlarut-larut, tentu akan membahayakan industri pariwisata di Bali dan nama besarnya sebagai destinasi favorit wisman global. Gimana menurutmu Sahabat Booombastis?

Newsmaker

Add comment