Ceriwis

Pulau Pari yang dulunya “surga” nya Jakarta, kini berubah menjadi kotor

Pulau Pari menjadi salah satu primadona yang terletak di gugusan Pulau Seribu, Jakarta. Alih-alih menjadi tujuan partiwisata, kondisinya saat ini terbilang sangat memprihatinkan. Dilansir dari republika.co.id, Pulau Pari tercemar oleh ribuan ton sampah kiriman yang sebagian besar adalah limbah  plastik.

Buntut dari hal tersebut, biota laut di perairan sekitarnya pun menjadi korban. Sumber dari news.detik.com menuliskan, penyu Pulau Pari terlihat mati akibat tumpukan sampah plastik. Berubah kotor, beginilah kondisi Pulau Pari yang kini tercemar dan terlihat kumuh.

Dipenuhi tumpukkan sampah plastik sebanyak 10 ton

Tumpukan sampah yang terkumpul di sungai-sungai Jakarta, pada akhirnya bermuara di perairan Pulau Pari sebagai terminal terakhir. Dilansir dari metro.tempo.co, Sebanyak 10 meter kubik sampah atau setara dengan 10 ton mencemari lingkungan di sekitar tempat tersebut. Hampir 80 persen terdiri dari plastik dan beberapa adalah jayu dan eceng gondok. Limbah tersebut merupakan kiriman dari sungai-sungai di Jakarta yang akhirnya terbawa arus air hingga mencapai Pulau Pari.

Mencemari lingkungan dan membunuh biota laut

Karena banyaknya volume sampah yang menumpuk, lingkungan dan biota laut lainnya berpotensi akan tercemar. Sumber dari news.detik.com menuliskan, seekor penyu sisik ditemukan mengambang dengan kondisi tubuh yang mulai membusuk. Meski belum dapat dipastikan, banyak warga sekitar menduga penyebabnya adalah sampah plastik yang mendominasi tempat tersebut. Namun, hal ini dibantah oleh Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kepulauan Seribu Yusen Hardiman. Menurutnya, penyu tersebut merupakan hanyutan dari laut dan mati bukan karena sampah.

Sempat tercemar minyak misterius

Tak hanya tumpukan plastik seperti botol, kantong dan kemasan makanan yang mencemari perairan Pulau Pari, sampah seperti minyak pun sempat mengotori kawasan tersebut. Sumber dari news.detik.com menyebutkan, sebuah cairan berwarna hitam pekat tampak terlihat mengotori kawasan tersebut. Meski belum jelas darimana asalanya, limbah itu termasuk kategori B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). “Ini B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun),” duganya. “Sejenis crude oil.” ujar Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu, Yusen Herdiman, yang dikutip dari news.detik.com.

Berubah kumuh karena sampah kiriman

Petugas tengah membersihkan sampah dari Pulau Pari [sumber gambar]

Karena adanya tumpukan sampah di sekitar perairannya, wajah Pulau Pari tak ubahnya sebagai lokasi “pembuangan sampah” di kota-kota besar. Terlebih, bekas tumpahan minyak misterius yang belum jelas asal-usulnya, semakin mengurangi keindahan alami Pulau Pari. Padahal, kawasan tersebut merupakan lokasi yang menarik untuk menggaet minat wisatawan lokal maupun asing untuk berkunjung.

Pencemaran Pulau Pari di atas memang sangat disayangkan. Selain karena mengurangi keindahan, hal tersebut juga menjadi ancaman tersendiri bagi lingkungan sekitar. Terutama biota lautnya. Mudah-mudahan, pihak yang berwenang bisa segera mengatasi permasalahan yang ada dengan solusi terbaik. Gimana menurutmu Sahabat Ceriwis?

Newsmaker

Add comment